Tampilkan postingan dengan label Belia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belia. Tampilkan semua postingan

01 November 2009

Dengan Sedikit, Kita Bisa

SEBUAH iklan produk susu di TV mengatakan bahwa dengan sedikit mengubah kebiasaan kecil, hal sesulit apa pun bisa kita peroleh. Nah, di sini aku ingin coba sedikit nunjukin kepada Belia semua hal-hal apa aja yang harus diubah biar kita dapat memperoleh hal-hal yang kita inginkan.

1. Dengan menghilangkan waktu main kita untuk belajar, berarti kita telah membuka jalan agar nilai-nilai kita tak lagi doremi.

2. Dengan menggunakan sedikit kemampuan otak kita, berarti kita telah bersama-sama mengejar ketertinggalan bangsa ini dari Jepang ataupun Amerika.

3. Dengan menyisihkan Rp 500,00 sampai Rp 1.000,00 setiap hari, berarti kita telah siap untuk keliling dunia.

4. Dengan memunguti satu sampah kecil di jalan dan menanam sebuah tanaman hijau kecil berarti kita telah menyelamatkan bumi ini dari ancaman global warming

5. Dengan mengurangi sedikit waktu menonton sinetron, berarti kita telah menghilangkan sebagian pengaruh buruk yang ada dari sinetron itu.

6. Dengan meluangkan waktu setengah jam sehari untuk membaca buku, bearti kita telah menambah ilmu yang kita miliki.

7. Dengan menghafal satu kata asing setiap hari berarti kita telah siap untuk menguasai dunia.

8. Dengan olah raga lima sampai sepuluh menit setiap hari berarti kita membuat umur kita di dunia semakin panjang.

9. Dengan mendermakan Rp 100,00 saja berarti kita telah membeli tiket ke surga.

10. Dengan berani mencoba berarti kita telah membuka jalan menuju berhasil.

Nah, setelah selesai membaca, dilanjutkan dengan memulai untuk melakukan hal-hal kecil tadi niscaya belia semua udah selangkah lebih maju dari sebelumnya!***

Nraktir? Gak Mungkin!

WHAT’S up ? Ari Toge mau nraktir anak-anak Djadam? Gak mungkin banget kali! Wong, di luar langit masih baik-baik aja. Gak ada ujan gak ada petir. Atau, tadi anak-anak Djadam salah ngartiin ucapan drumernya itu.

Nggak, anak-anak Djadam nggak salah denger. Ari bener-bener mau nraktir mereka semua. Emang sih, di Djadam, Ari terkenal paling pelit buat ngeluarin uang. Anak-anak sendiri, malah bakal numpeng kalo Ari mau nraktir mereka.

Emang sih, di Djadam sendiri, ada aturan yang nyebutin kalo salah seorang dari mereka ada yang lagi banyak duit, orang itu wajab nraktir yang lainnya. Kalo nggak ? "Jangan ngarep deh lo bakal aman di kelas" ujar Otang sesepuh Djadam.

Tet... Tet... Tet

Bunyi bel kemenangan anak-anak Djadam berbunyi. Mereka akhirnya terbebas dari kutukan rumus-rumus fisika. Selain itu, saat itu pula Ari toge bakal ngewujudin janjinya.

Anak-anak Djadam telah berada di kantin. Mereka sebenarnya agak takut juga, kalo-kalo akhirnya mereka sendiri yang disuruh bayar. Mana tanggal tua , dompet udah tipis.

"Cepetan keburu masuk lagi, Ntar si Buldog ngamuk" perintah Ari agar anak-anak Djadam segera memilih makanan.

"Beneran, gue boleh ngambil apa aja?" Opick masih kurang yakin.

"Sok, up to you... Gue yang bayar ini," Ari kembali ngeyakinin mereka.

Anak-anak Djadam akhirnya memesan makanan dan minuman. Banyak sekali yang mereka pesan. Imam yang terkenal paling rakus pun, memesan 2 porsi nasi goreng dan 1 piring baso tahu.

Giliran bayar, Ari ternyata emang nggak kabur. Dia ngeluarin 2 lembar uang 50.000 rupiah dari dompetnya. Anak-anak Djadam sendiri heran, kok akhir bulan begini, Ari masih banyak duit. "No what-what... cuma segini ini" kata Ari dengan englishnya yang amburadul.

**

SEPULANG sekolah, anak-anak Djadam udah ngumpul di tempat majalah langganan mereka ngutang. Mereka terlihat tegang, tetapi sesaat kemudian mereka bersorak. Demo lagu mereka yang mereka kirimin ke radio masuk chart dan mereka bakal ngedapet komisi.

"Ge, sore ini kita mesti ke radio..." ujar Ara.

"Mau ngapain ?" tanya Ari.

"Ngambil Honor lah..." jawab Imam enteng.

"Gak perlu wong honornya udah ada di kalian..."

Anak-anak Djadam terdiam ngedenger kata kalian. "Maksud Lo...?"

"Udah ada di perut kalian, malahan mungkin bentar lagi bakal jadi penghuni wc umum..."

Jangan-jangan...

Bener banget, ternyata duit yang dipake Ari nraktir adalah uang honor atas lagu mereka. Saat itu, rasanya semua anak Djadam pengen teriak dan mencekik Ari Toge.***

Marhaban Ya Ramadan

Waktu bergulir begitu cepat. Setelah sebelas bulan menanti, akhirnya kita berjumpa lagi dengan bulan yang suci. Bulan yang penuh maaf serta penuh ampunan. Bulan dengan limpahan pahala, berkah, rahmat, dan karunia yang tiada tara. Bulan di mana setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, dan pintu-pintu surga dibukakan dengan selebar-lebarnya.

Ya…, setelah melalui perjalanan yang panjang, Ramadan akhirnya kembali datang. Kembali menyapa kita. Kembali menghampiri setiap hati yang kotor untuk dibersihkannya di hari yang suci kelak.

Marhaban ya Ramadan hanya itu kata yang bisa terucap. Mari kita isi Ramadan tahun ini dengan penuh ketakwaan. Penuh dengan amal kebajikan. Penuh dengan perbuatan-perbuatan yang baik, sehingga kita mendapat makna yang sesungguhnya akan Ramadhan itu sendiri. Karena Ramadan bukan hanya berpuasa. Karena Ramadan bukanlah menahan lapar dan dahaga saja. Karena Ramadan seyogianya adalah tempat di mana kita menempa diri dengan latihan-latihan agar kita bisa hidup lebih baik lagi di bulan-bulan berikutnya.***

Memetik Hikmah dari Bencana

Lagi dan lagi! Mungkin ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan gempa yang kembali terjadi di Padang Pariaman, Sumatra Barat, Rabu 30 September yang lalu. Belum selesai kesedihan dan penanganan korban gempa di Jawa Barat, kini gempa dashyat berkekuatan 7,6 pada skalaRichter (atau 7,9 pada skala Richter menurut US Geological Survey (USGS)), kembali terjadi. Getaran dari gempa itu sendiri bias dirasakan sampai negeri tetangga Malaysia dan Singapura.

Gempa yang lebih besar dibandingkan gempa Jawa Barat itu seakan mengingatkan kita akan kekuasaan-Nya yang begitu besar. Di mata-Nya kita ini hanyalah mahluk-Nya yang lemah, kecil, dan tidak berdaya.oleh karena itu sangat tidak layaklah kita untuk menyombongkan diri di hadapa-Nya.

Sobat, gempa yang berkedalaman 85 km, dan merenggut puluhan nyawa dan merusakkan ratusan bahkan ribuan rumah ini juga secara tidak langsung merupakan sebuah teguran dari Tuhan. Dia ingin mengingatkan kita untuk kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, mari kita mengambil sedikit hikmah dan pelajaran yang tersisa dari gempa yang terjadi di Padang . Kita harus lebih banyak beribadah dan memohon ampun atas semua kesalahan yang penah kita lakukan. Lebih peduli dan lebih mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya untuk kita. Sambil tak lupa berdoa, agar di masa yang akan datang kejadian seperti ini tak datang kembali. Agar negeri kita tercinta ini tak diguncang gempa dan bencana, lagi!***